Selasa, 12 Maret 2013

Berbagai Pendekatan Dalam Memahami Agama


1.    Pendekatan Teologis Normative
Theology diartikan sebagai ilmu agama. Sedangkan menurut istilah adalah ilmu yang membicarakan tentang masalah ke-Tuhanan, dan membicarakan pula tentang rasul-rasul Tuhan, dan hal-hal yang berhubungan dengan agama. Dalam hal ini Harun Nasution mengatakan bahwa teologi membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Setiap orang yang ingin memahami seluk beluk agamanya perlu mempelajari yang terdapat dalam agamanya tersebut. Mempelajari teologi akan memberikan seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan landasan yang kuat yang tidk mudah diruntuhkan oleh pergantian zaman.
Pendekatan teologis-normatif ini termasuk salah satu cara yang tertua atau yang pertama kali di pakai manusia dalam memahami agama. Corak paham ini sering kali bertentangan dengan corak paham historis empiris, dan termasuk yang paling banyak di anut oleh masyarakat islam di Indonesia. Teologi dapat di artikan menjadi istilah yang mengacu pada keyakinan yang tertanam pada hati sanubari yang berimbas pada ucapan maupun perbuatan. Dalam hal ini teologi juga menerapkan bahwa segala sesuatu yang berasal dari tuhan sebagai kebenaran yang tidak boleh di ganggu gugat dan harus di terima sepenuhnya. Sementara itu sesuatu yang tidak bersal dari tuhan tidak dapat di katakan suatu kebenaran dan karenanya dapat di terima atau pun di tolak.

2.    Pendekatan Antropologis
  Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.Sedangkan menurut istilahpendekatan antropologis adalah terbentuknya pola-pola perilaku manusia dalam tatanan nilai nilai yang di anut dalam kehidupan manusia.
          Debekali pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia paham antropologi memegang peranan yang sangat penting dalam mempelajari agama dan berinteraksisosial dalam  berbagai budaya. Pendekatan yang digunakan para ahli antropologi dalam penelitian adalah melalui pendekatan kebudayaan, yaitu melihat agama sebagai inti kebudayaan. Menurut Geertz (1963) agama abangan, santri dan priyayi adalah variasi keyakinan agama dalam keyakinan masyarakat jawa sesuai denga lingkungan hidup dan kebudayaan masing-masing. Begitu juga dengan Suparman tentang penelitian masyarakat islam di Suriname(1995) adalah keyakinan agama yang bersifat tradisional yaitu bersembahyang menghadap barat, dan yang modern adalah bersembahyang ke arah timur.
          Penelitian antropologis yang induktif dan grounded, yaitu turun ke lapangan tanpa berpijak pada, atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dilakukan di bidang sosiologi dan lebih-lebih ekonomi.
          Sejalan dengan pendekatan tersebut, maka dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Golongan masyarakat yang kurang mampu dan golongan miskin pada umumnya, lebih tertarik pada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat mesianis, yang menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Sedangkan golongan orang kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan itu menguntungkan pihaknya.
          Melalui pendekatan antropologis di atas, kita melihat bahwa agama berperan penting dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatau masyarakat. Dalam hubungan ini, jika kita ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang, maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaannya. 
          Dengan demikian, pendekatan antropologi sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan ilmu antropologi.
3.    Pendekatan Sosiologis
          Pendekatan sosiologis adalah pendekatan agama melalui ilmu-ilmu sosial, karena di dalam agama banyak timbul masalah-masalah sosial. Dalam ilmu sosiologis, para peneliti menggunakan logika-logika dan teori klasik maupun modern untuk menggambarkan fenomena sosial keagamaan serta pengaruh suatu fenomena terhadap fenomena lain.
          Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat.
           Berkaitan dengan pendekatan sosiologis ada 3 teori yang bisa digunakan untuk penelitian, yaitu: teori fungsional, teori interaksional, dan teori konflik.
1.      Teori Fungsional
Teori fungsional adalah teori yang mengasumsikan masyarakat sebagai organisme ekologi mengalai pertumbuhan. Semakin besar pertumbuhan terjadi semakin kompleks pula masalah-masalah yang akan dihadapi.
2.      Teori interaksional
Prinsip dasar yang dikembangkaan oleh teori interaksional adalah bagaimana individu menyikapi sesuatu atau apa saja yang ada di lingkungan sekitarnya, memberikan makna pada fenomena tersebut berdasarkan interaksi sisoal yang dijalankan dengan individu yang lain, makna tersebut difahami dan dimodifikasi oleh individu melalui proses penafsiran yang berhubungan dengan hal-hal yang dijumpainya.
3.      Teori konflik
Teori konflik adalah teori yang percaya bahwa manusia memilki kepentingan dan kekuasaan yang merupakan pusat dari segala hubungan manusia. Mereka selalu bersaing untuk mewujudkan hasrat dan kepentingan kepentingan mereka dan sering kali pula terjadi konflik antara satu komunitas masyarakat dengan komunitas lainnya.
Mereka merasakan adanya musuh bersama yang harus dihadapi,mereka memiliki perasaan senasib sehingga muncul rasa solidaritas antar anggota komunitas.
Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Dalam agama islam dapat dijumpai peristiwa nabi Yusuf yang dahulunya budak, lalunya akhirnya bisa menjadi penguasa di Mesir. Mangapa dalam melaksanakan tugasnya nabi Musa harus dibantu oleh nabi Harun, dan masih banyak lagi contoh yang lain. Beberapa  peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus dapat ditemukan hikmahnya dengan ilmu sosial.

4.    Pendekatan Filosofis
        Pengertiannya adalah melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat (berusaha untuk menjawab) memecahkan permasalahan itu dengan menggunakan metode analisis spekulatif.
     Sedangkan menurut istilah pndekatan filosofis adalah suatu pendekatan atau pemahaman dari sudut pandang filsafat.
        Namun tidak semua pemikiran dapat diartikan sebagai filsafat. Filsafat adalah berpikir secara sistematis, radikal, dan universal. Dan filsafat juga memiliki objek penelitia sendiri, yaitu hal-hal di bidang yang berhubungan dengan dunia ketuhanan yang gaib dengan dunia ilmu pengetahuan yang nyata.
        Mendalam artinya dilakukan sedemikian rupa hingga dicari sampai kebatas dimana akal tidak sanggup lagi. Radikal artinya sampai keakar-akarnya hingga tidak ada lagi yang tersisa. Sistematik maksudnya adalah dilakukan secara teratur dengan menggunakan metode berpikir tertentu dan universal maksudnya tidak dibatasi hanya pada suatu kepentingan kelompok tertentu tetapi untuk seluruhnya.
     Filsafat tidak mau menerima segala sesuatu yang bersifat otoritas. Baik di agama maupun di ilmu pengetahuan filsafat selalu memikirkan kembali segala sesuatunya, sehingga mendatangkan pemahaman yang sebesar-besarnya.
      Filsafat juga digunkan untuk memahami berbagai bidang lainnya selain agama. Misalnya membaca adanya filsafat hukum Islam, filsafat sejarah, filsafat kebudayaan, filsafat ekonomi dan lain-lain. Melalui pendekatan filosofis ini seseorang tidak akan terjadi pada pengamalan agama yang bersifat formalistic, yakni mangamalkan agama dangan susah payah tetapi tidak memiliki makna apa-apa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar